EKSISTENSI PRODUK LOKAL PALEMBANG
TERHADAP TEKANAN PRODUK LUAR
Oleh
:
Akhid Lutfia Winarni
(Siswa
SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
A. Pendahuluan
Dewasa ini,
ekonomi kreatif tumbuh
dan berkembang dengan sangat pesat. Ekonomi kreatif adalah suatu
usaha yang berlandaskan ide, seni dan teknologi. Menurut menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Mari
Elka Pangestu, ekonomi kreatif adalah
kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa yang berasal dari orisinalitas ide
manusia, unik dan mempunyai value
creation, serta patut mendapatkan perlindungan hak cipta. Sedangkan dalam www.indonesiakreatif.net ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era
ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan
ide dan stock knowledge dari Sumber
Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.
Sehingga diperlukan sumber
daya manusia yang berkompeten, cerdas, kreatif dan inovatif untuk bergelut di
dunia bisnis dan industri. Mereka adalah inovator yang mampu
mengimplementasikan gagasan-gagasan kreatifnya menjadi kemampuan berinovasi. Kemampuan berinovasi inilah yang nantinya
akan menghasilkan produk-produk yang bernilai jual tinggi sehingga mampu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Upaya ini makin diperkuat dengan Inpres Nomor 6/2009 tentang
Pengembangan Ekonomi Kreatif.
Oleh karena
itu, jiwa interpreneur harus
ditanamkan pada setiap individu sejak dini. Abad ke-21 merupakan era persaingan
global, dimana produk yang memiliki kualitas dan penampilan menariklah yang
akan menang. Palembang sebagai salah satu Kota besar di Indonesia turut
mengalami persaingan dengan negara asing. Persaingan antara produk lokal dengan
luar terjadi dengan gencarnya. Agar produk lokal Palembang tidak kalah bersaing
dengan produk-produk luar, diperlukan technopreneur yang handal dan berkompeten
sehingga mampu menciptakan inovasi terhadap semua produknya.
Pemerintah Indonesia pada 10 Januari lalu telah menerapkan perjanjian perdagangan bebas ASEAN Free Trade Area (AFTA). Dengan semakin bebasnya produk luar masuk ke Kota
Palembang, industri kreatif
semakin sulit untuk merauk keuntungan. Sehingga tidak mengherankan jika banyak
industri kreatif di Kota
Palembang yang gulung tikar dan mengakibatkan jumlah pengangguran bertambah. Hal
ini membuat para technopreneur harus bekerja lebih keras lagi untuk
mempertahankan eksistensi produknya.