Selasa, 29 November 2011


EKSISTENSI PRODUK LOKAL PALEMBANG
TERHADAP TEKANAN PRODUK LUAR

Oleh :
Akhid Lutfia Winarni
(Siswa SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)


A.  Pendahuluan
Dewasa ini, ekonomi kreatif tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat. Ekonomi kreatif adalah suatu usaha yang berlandaskan ide, seni dan teknologi. Menurut menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Mari Elka Pangestu,  ekonomi kreatif adalah kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa yang berasal dari orisinalitas ide manusia, unik dan mempunyai value creation, serta patut mendapatkan perlindungan hak cipta. Sedangkan dalam www.indonesiakreatif.net ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.
Sehingga diperlukan sumber daya manusia yang berkompeten, cerdas, kreatif dan inovatif untuk bergelut di dunia bisnis dan industri. Mereka adalah inovator yang mampu mengimplementasikan gagasan-gagasan kreatifnya menjadi kemampuan berinovasi. Kemampuan berinovasi inilah yang nantinya akan menghasilkan produk-produk yang bernilai jual tinggi sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Upaya ini makin diperkuat dengan  Inpres Nomor 6/2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.
Oleh karena itu, jiwa interpreneur harus ditanamkan pada setiap individu sejak dini. Abad ke-21 merupakan era persaingan global, dimana produk yang memiliki kualitas dan penampilan menariklah yang akan menang. Palembang sebagai salah satu Kota besar di Indonesia turut mengalami persaingan dengan negara asing. Persaingan antara produk lokal dengan luar terjadi dengan gencarnya. Agar produk lokal Palembang tidak kalah bersaing dengan produk-produk luar, diperlukan technopreneur yang handal dan berkompeten sehingga mampu menciptakan inovasi terhadap semua produknya.
Pemerintah Indonesia pada 10 Januari lalu telah menerapkan perjanjian perdagangan bebas ASEAN Free Trade Area (AFTA). Dengan semakin bebasnya produk luar masuk ke Kota Palembang, industri kreatif semakin sulit untuk merauk keuntungan. Sehingga tidak mengherankan jika banyak industri kreatif di Kota Palembang yang gulung tikar dan mengakibatkan jumlah pengangguran bertambah. Hal ini membuat para technopreneur harus bekerja lebih keras lagi untuk mempertahankan eksistensi produknya.